Islamkah kita…..? Thursday, Jun 7 2007 

setiap anak yang lahir dari keluarga islam, insya allah secara otomatis akan menjadi seorang islam. begitu juga sebaliknya, setiap anak yang lahir dari keluarga yang bukan islam, maka hampir dapat dipastikan bahwa dia tidak akan beragama islam.

Dalam kehidupan mungkin kita sering bertanya kenapa masih ada orang yang masih melakukan kejahatan meskipun sudah sholat. ada apa dengan sholatnya?. sebenarnya yang perlu digaris bawahi adalah bukan menjalankan sholatnya tetapi kualitas dari sholat itu sendiri yang akan menentukan bagaimana pengaruhnya dalam kehidupan.

alangkah lebih baik kalo kita tahu sebenarnya bagaimanasih posisioning/kedudukan sholat dalam islam?. pertama, sholat adalah satu satunya ibadah yang proses penyampainya tidak melalui maikat jibril, tetapi langsung antara Allah dan Nabi Muhammad. kedua, sholat merupakan identitas minimal seorang muslim. ketiga, sholat adalah tiang agam. dan yang keempat, sholat adalah amalan pertama yang akan dihisab. jika baik sholatnya maka baik pula amalan lainnya sedangkan jika jelek sholatnya maka jelek pula amalam amalan lainnya.

Ada apakah dalam ibadah sholat?. dalam sholat ada 3 ibadah besar yang kita lakukan. pertama adalah dzikir, yang kedua adalah doa, dan yang ketiga adalah tilawah al qur’an. Dalam sholat dzikir yang paling banyak adalah “Allahu Akbar” yang merupakan bentung pengungan kita kepada Allah. ketika kita mengucapkan Allahu Akbar, kita merasakan kalo kita ini sebagia makhluk yang sangat kecil dibandingkan Allah SWT. kita tidak ada apa apanya tanpa pertolongan dan karunia Allah. semua yang ada pada kita adalah bentuk sayang Allah kepada kita. dalam sholat juga terangkum doa doa yang kita perlukan dalam kehidupan sehari hari. silahkan pahami arti dalam bacaan duduk antara dua sujud. dalam sholat juga kita membaca Al qur’an.

trus apa yang harus kita lakukan dalam sholat. target kita dalam sholat adalah kita bisa khusu dalam menjalankanya. ada beberapa usaha yang dapat kita lakukan dalam mencapai khusu dalam sholat. pertama usahakan sholat tepat waktu. kedua, berusahalah memahami makna setiap bacaan dalam sholat. hindarkan persoalan persolan dunia dalam menjalankan sholat. ini maksudnya agar kita tida memikirkan hal hal duniawi ketika sholat yang mana akan merusak kekhusuan sholat kita. yang kelima adala usahakan mematuhi tata cara dalam sholat yang sudah dicontohkan oleh rasul kita.

khusu cuma kita dan Allah yang tahu. bahkan kadang kita juga belum bisa menggaransi kalo sholat kita khusu. kalo seseoarang bisa melaksanakan sholat dengan baik dalam segi kualitas insya Allah sholatnya akan menjaganya dalam kehidupan sehari hari. orang akan menjadi disiplin karena dalam sholat sudah diajarkan prinsip prinsip tepat waktu dalam menajalankan sholat. orang akan menjadi lebih hati hati dalam kehidupanya. dari sholat juga dapat dipetik ajaran agar kita selalu menjalin hubungan sosial yang harmonis. kalo kita perhatikan sholat, sholat selalu diakhiri dengan salam dan diikuti dengan tolehan kanan dan kiri. di sini ada pelajaran pemeberiaan salam dan doa kepada siapa saja. sebagai makhluk sosial. kita diperintahkan akan hungan sosial sesama manusia harus diperhatikan. sehingga munculah manusia manusia yang baik ibadahnya kepada Allah dan baik pula perilaku dan hubungannya dengan sesama.

Advertisements

Pendidikan tanpa Kekerasan Thursday, Jun 7 2007 

Di era globalisasi ini banyak sekali kejadian-kejadian yang sangat ironis menimpa bangsa kita terutama dalam hal pendidikan, sangat tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional bahwa pendidikan dengan kekerasan yang ada di bangsa kita ini selalu ada dan belum bisa hilang. Tindak fisik, mental, pelenyapan fisik, jiwa, atau etos untuk bisa hidup secara damai dalam diri manusia terjadi berulang-ulang dan hampir setiap hari.

PERLINDUNGAN terhadap anak korban kekerasan merupakan fenomena sosial yang memerlukan perhatian kita semua. Sebelum diberlakukan UU PKDRT, ketika itu Meneg pemberdayaan perempuan telah mengembangkan model community watch (2002), yaitu membangun kemitraan dengan institusi yang ada di masyarakat, seperti Dasawisma PKK dan institusi lain di tingkat rukun tetangga dan desa, untuk memantau dan melakukan deteksi dini terjadinya kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga, termasuk penganiayaan pada anak. Namun, kenyataannya di masyarakat tidak tampak.

Dan kekerasan anak di Indonesia tidak semakin berkurang, tetapi meningkat dari tahun ke tahun. Seto Mulyadi dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia, misalnya, mencatat pada 2003 terdapat 481 kasus kekerasan. Jumlah itu meningkat menjadi 547 kasus pada 2004, dengan 221 kasus merupakan kekerasan seksual, 140 kekerasan fisik, 80 kekerasan psikis, dan 106 permasalahan lainnya. Sebelumnya, majalah Medika mencatat, pada 1992 lalu, dilaporkan terjadi tiga juta kasus perlakukan keji terhadap anak-anak di bawah umur 18 tahun, dan 1.299 di antaranya meninggal dunia. Kekerasan terhadap anak sebenarnya bukan sekadar urusan fisik dan seksual. Itu hanyalah bagian kecil dari kasus yang terjadi. Kalau mau lebih esensial menilai, kekerasan juga meliputi kekerasan psikis dan sosial (struktural).

Melalui beberapa pendekatan ilmiah, buku ini ingin memperlihatkan kepada kita bagaimana kekerasan terhadap anak dari dua sisi, internal dan eksternal selalu menjadi fenomena yang terus terjadi. Ada banyak faktor kenapa terjadi kekerasan terhadap anak.(1) Anak mengalami cacat tubuh, retardasi mental, gangguan tingkah laku, autisme, terlalu lugu, memiliki temperamen lemah, ketidaktahuan anak akan hak-haknya, dan terlalu bergantung kepada orang dewasa. (2) Kemiskinan keluarga, banyak anak.(3) Keluarga pecah (broken home) akibat perceraian, ketiadaan ibu dalam jangka panjang, atau keluarga tanpa ayah. (4) Keluarga yang belum matang secara psikologis, ketidakmampuan mendidik anak, harapan orang tua yang tidak realistis, anak yang tidak diinginkan (unwanted child), anak lahir di luar nikah. (5) Penyakit gangguan mental pada salah satu orang tua. (6) Pengulangan sejarah kekerasan: orang tua yang dulu sering ditelantarkan atau mendapat perlakukan kekerasan sering memperlakukan anak-anaknya dengan pola yang sama. (7) Kondisi lingkungan sosial yang buruk, keterbelakangan.

Namun, di luar faktor-faktor tersebut, sebenarnya kekerasan struktural paling menjadi problem utama kehidupan anak-anak Indonesia. Karena sifatnya struktural, terutama akibat kemiskinan, faktor-faktor lain seperti rendahnya tingkat pendidikan, pengangguran, dan tekanan mental, termasuk lemahnya kesadaran hukum masyarakat dan lemahnya penegak hukum memperkuat tingkat kekerasan terhadap anak. Lebih dari itu, kekerasan struktural juga berdampak luar biasa, jangka pendek maupun jangka panjang.

Situasi di atas tentu sangat memprihatinkan. Berbagai upaya penanggulangan kekerasan terhadap anak jelas menjadi kewajiban pemerintah, termasuk para pekerja sosial. Masyarakat Indonesia modern ternyata belum sadar bahwa anak memiliki hak penuh untuk diperlakukan secara manusiawi. Di sini, pemerintah sebenarnya punya tugas yang tidak mudah. Pekerja sosial yang mengurusi masalah ini juga masih sangat minim. Karena itu, sangat tepat jika buku ini secara khusus membahas pentingnya gerakan perlindungan terhadap anak.

Buku Kekerasan terhadap Anak disusun secara sederhana; yakni menjelaskan pentingnya kita menjaga kehidupan dan masa depan anak-anak Indonesia yang kondisinya sangat memprihatinkan. Melalui beberapa pendekatan analitis, buku ini ingin mengajak kita agar menjauhkan anak dari bahaya-bahaya struktural maupun kultural. Sekalipun data-data kekerasan terhadap anak di Indonesia tidak banyak berbeda dari yang kita temukan di berbagai media massa, buku ini tetap penting dibaca.Mungkin hal yang agak baru dari buku ini adalah tentang pendekatan paradigmatik dari teori-teori baru berkaitan dengan masalah kekerasan terhadap anak (child abuse). Anak, sebagai generasi bangsa perlu dilindungi, dirawat dan diarahkan kehidupannya.

Saat anak masih dalam usia prasekolah, hal ini mungkin tidak terlalu terasa. Tetapi, ketika anak sudah memasuki usia sekolah, mempunyai banyak tugas belajar, dan sudah mengenal dunia luar yang memberikan berbagai pengaruh pada anak, orangtua mulai “diuji” kesabarannya untuk menghadapi tingkah laku anak.

Akibatnya, orangtua yang secara fisik sudah lelah dan harus menghadapi tingkah laku anak yang dinilai nakal, menjadi tidak sabar. Mereka tidak lagi bisa berbicara, tetapi tak jarang langsung memakai kekerasan fisik.

Bagi banyak orangtua, kekerasan pada anak adalah hal yang wajar. Mereka beranggapan ini adalah bagian dari mendisiplinkan anak. Mereka lupa bahwa orangtua adalah orang yang paling bertanggung jawab dalam mengupayakan kesejahteraan, perlindungan, peningkatan kelangsungan hidup, dan mengoptimalkan tumbuh kembang anaknya.

Keluarga adalah tempat pertama kali anak belajar mengenal aturan yang berlaku di lingkungan keluarga dan masyarakat. Sudah barang tentu dalam proses belajar ini, anak cenderung melakukan kesalahan. Bertolak dari kesalahan yang dilakukan, anak akan lebih mengetahui tindakan-tindakan yang bermanfaat dan tidak bermanfaat, patut atau tidak patut.

“Kekerasan yang terjadi di dalam lingkungan keluarga menduduki porsi terbesar dalam kasus kekerasan yang menimpa anak-anak pada rentang usia tiga sampai 18 tahun,” tutur Purnianti menambahkan.

UNTUK mendefinisikan seorang anak sebagai pelanggar aturan atau nilai yang dianut diperlukan kesabaran, tidak serta-merta menyudutkan anak. Misalnya dengan memberi cap kepada si anak.

Definisi pelanggaran itu berbeda antara anak dan orangtua yang menilai tindakan tersebut. Bagi anak, tindakan itu merupakan ketidaktahuan, permainan, kesenangan, dan petualangan. Tetapi, bagi orangtua tindakan yang dilakukan anak itu melanggar sehingga perlu dikontrol dan dihukum.

Dalam buku Children Are From Heaven (Gramedia Pustaka Utama, 2001) karya John Gray disebutkan, hukuman hanya akan membuat anak tidak dapat mengembangkan cinta kepada diri sendiri atau kemampuan memaafkan diri sendiri. Untuk meningkatkan motivasi dan mengarahkan anak, jangan lagi menggunakan hukuman, tetapi gunakan hadiah. Jadi, penekanannya bukan pada konsekuensi perbuatan negatif, tetapi pada konsekuensi pada perbuatan positif.

Kalau hal-hal positif dari anak yang ditonjolkan, maka anak akan melihat dirinya baik dan berhasil. Gambaran diri yang positif ini tidak hanya akan memotivasi mereka untuk bersikap kooperatif, tetapi dapat menciptakan harga diri, kepercayaan diri, dan suatu perasaan mampu.

Untuk mengendalikan seorang anak yang sedang nakal, langkah pertama yang harus dilakukan adalah meminta. Kalau anak menolak permintaan itu, langkah kedua adalah mendengar dan memerhatikan. Kalau mendengarkan tidak cukup, langkah ketiga adalah menawarkan hadiah. Jika hadiah juga tidak efektif, langkah keempat baru memerintah, seperti seorang jenderal memerintah pasukannya.

Memerintah adalah mengatakan langsung kepada anak apa yang harus dilakukan anak. Sekali orangtua menggunakan suara memerintah, mereka harus tetap tegas. Menggunakan emosi, penalaran, atau ancaman hanya akan melemahkan otoritas orangtua.

Jadi pada hakekatnya kekerasan orang tua terhadap anaknya boleh dilakuakan asalkan tidak melanggar norma-norma yang ada di masyarakat dengan dalih supaya anak patuh pada orang tua. Karena anak adalah titipan dari sang Ilahi mestinya harus kita jaga sebaik mungkin dan sudah seharusnya kita didik setinggi mungkin jangan samapai telantarkan.